Setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di
rumah. Istrinya menyambut dengan gembira, "Aku punya sepotong keju untukmu,"
kata istrinya.
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sufi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 21 November 2014
Jatuhnya Jubah
Nasrudin pulang malam bersama teman-temannya. Di
pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Nasrudin sudah menanti
dengan marah. "Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi !"
katanya sambil menjewer Nasrudin. Karena kuatnya, Nasrudin terpelanting dan
jatuh menabrak peti.
Periuk Beranak
Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya.
Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di
sampingnya. Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.
Ke-Kekalan Masa
Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin
membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan
yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang
teman-temanku makan di sini."
Terburu-Buru
Keledai Nasrudin jatuh sakit. Maka ia meminjam
seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya.
Begitu Nasrudin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara
Nasrudin berpegangan di atasnya, ketakutan.
Bahasa Burung
Dalam pengembaraannya, Nasrudin singgah di
ibukota. Di sana langsung timbul kabar burung bahwa Nasrudin telah menguasai
bahasa burung-burung. Raja sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka
dipanggillah Nasrudin ke istana.
Kamis, 20 November 2014
Menjemur Baju
Nasrudin sedang mengembara cukup jauh ketika ia
sampai di sebuah kampung yang sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin,
beberapa penduduk mengeluh, "Sudah enam bulan tidak turun hujan di
tempat ini, ya Mullah. Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggan
beberapa kantong lagi.
Miskin dan sepi
Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang
tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi
kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya
habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.
Tampang Itu Perlu
Nasrudin hampir selalu miskin. Ia tidak
mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh. "Tapi aku mengabdi kepada Allah saja,"
kata Nasrudin. "Kalau begitu, mintalah upah kepada
Allah," kata istrinya.
Jangan Terlalu Dalam
Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang
hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak
punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang
sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi -- kita tahu
-- menyogok itu diharamkan.
Penyelundup Jubah
Ada kabar angin bahwa Mullah Nasrudin berprofesi
juga sebagai penyelundup. Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang
menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal
yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nasrudin memang sering
harus melintasi batas wilayah.
Cara Membaca Buku
Seorang yang filosof dogmatis sedang meyampaikan
ceramah. Nasrudin mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak,
dan sering menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah
didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan
dengan cara yang tidak semestinya.
Pelayan Raja
Nasrudin menjadi orang penting di istana, dan
bersibuk mengatur urusan di dalam istana. Suatu hari raja merasa lapar.
Beberapa koki menyajikan hidangan yang enak sekali. "Tidakkah ini sayuran terbaik di dunia,
Mullah ?" tanya raja kepada Nasrudin. "Teramat baik, Tuanku."
Jatuh Ke Kolam
Nasrudin hampir terjatuh ke kolam. Tapi orang
yang tidak terlalu dikenal berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada
saat yang tepat. Namun setelah itu, setiap kali bertemu Nasrudin orang itu
selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasrudin berterima kasih
berulang-ulang.
Orientasi Pada Baju
Nasrudin diundang berburu, tetapi hanya
dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu
kembali ke rumah. Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu
membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya.
Nasib dan Asumsi
"Apa artinya nasib, Mullah ?" -- "Asumsi-asumsi."-- "Bagaimana ?"
"Begini. Engkau menganggap bahwa segalanya
akan berjalan baik, tetapi kenyataannya tidak begitu. Nah itu yang disebut
nasib buruk. Atau, engkau punya asumsi bahwa hal-hal tertentu akan menjadi
buruk, tetapi nyatanya tidak terjadi.
Belajar Bijaksana
Seorang darwis ingin belajar tentang
kebijaksanaan hidup dari Nasrudin. Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa
kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia
menemani Nasrudin dan melihat perilakunya. Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api.
Api kecil itu ditiup-tiupnya.
Mimpi Relijius
Nasrudin sedang dalam perjalanan dengan pastur
dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka tinggal sepotong kecil roti.
Masing-masing merasa berhak memakan roti itu. Setelah debat seru, akhirnya
mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi
paling relijius. Tidurlah mereka.
Tampak Seperti Wujudmu
Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan
kebesaran Penciptanya."Oh kasih yang agung. Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu. Segala yang tampak oleh mataku. Tampak seperti wujud-Mu."
Yang Benar (Benar-Benar)
Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan
kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak
tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin
berkomentar: "Aku rasa engkau benar."
Langganan:
Postingan (Atom)